Jumat, 16 November 2012

SALAT TERAWEH YANG MENCEKAM

18.19 0 Comments


“Aneh” batinku,  Anak kecil perempuan itu terus memandangiku dan tersenyum tanpa henti pada ku ketika sudah tiga hari aku salat teraweh dimusholla al-Mubtadi’in. Kira kira anak kecil itu baru berumur lima tahun. Aku pun membalasnya dengan senyuman.
Aku selalu mendapat tempat salat teraweh tepat didepan kurung batang (keranda mayat). Jadi dimusholla itu kurung batang diletakan diruangan salat perempuan karena tidak ada tempat lagi untuk meletakakan keranda tersebut. Sudah dari tiga hari kemarin aku salat teraweh dimusholla yang dekat dekat dengan rumahku itu dan selalu ada anak kecil perempuan itu yang selalu melihatku dan tersenyum pada ku. Rasanya aku belum pernah melihat anak ini didaerah rumahku.
Anak ini tidak takut dengan kurung batang yang ada dibelakangku. Aku bingung sebenarnya anak itu melihat dan tersenyum kepadaku atau dengan yang ada dibelakangku. Aku pernah dengar kalau anak kecil masih bias melihat sesuatu yang orang dewasa belum tentu bisa melihatnya.
Senyum anak itu manis sekali, aku pun mencoba melambaikan tanganku mengisyaratkan agar anak itu mendekat padaku. Akhirnya dia mendekat, lalu aku bertanya “nama nya siapa?” sambil ternsenyum
“imah, kaka siapa namanya?”
“rani, imah sendirian salatnya? Ibunya mana?”
“dirumah kaka jagain ade ade aku”
Akupun salat tepat disamping si imah ini, disela-sela salat teraweh kami sempat mengobrol. Jujur saja aku agak takut dengan sesuatu hal tentang dunia ghaib.
“kaka..kaka.. cium bau melati gak?” Tanya imah
“gak tuh, emang imah tau bau melati kayak gimana?”
“tau bau orang meninggalkan kaka”
Jleeeb.. aku langsung merinding mendengarnya karena tepat dibelakang aku kurung batang (keranda mayat).
“imah gak takut disini?”
“gak ka, ka ada temen aku, tuh!” tangan imah menunjuk kurung batang
“emang siapa temen imah?”
“pocong kaka, tuh kaka mau kenalan gak? Hayu aku kenalin” dengan santai nya imah tersenyum senang
Sial, aku sudah ketakutan setengah mati si Imah malah bicara seperti itu.
Keesokan hari nya, aku datang lebih awal dari biasanya. Aku langsung memilih tempat paling depan dekat ibu-ibu dan nenek-nenek. Aku agak sedikit takut melihat Imah. Dan ketika salat teraweh Imah terus memandangiku dengan tersenyum tapi terlihat dia marah karena aku tidak berada didekat dengannya lagi seperti kemarin.
Hari ini aku pulang kekosan, jadi aku tidak slat teraweh dimushola dekat rumah. Setelah tiga hari kemudian aku baru pulang kerumah dan aku mendengar bahwa kemaren adayang meninggal nenek nenek tentangga rumahku.
Deg. Batinku
“jangan jangan si Imah ngomong gitu karena kurung batang dimusholla deket rumah ada yang mau make” bisikku dalam hati
Bulu kuduk ku langsung merinding ketika mengingat obrolan aku dan Imah beberapa hari yang lalu.
By: Siti Laila Khairani AS

Jumat, 03 Agustus 2012

Bahasa Arab

09.47 0 Comments

Bahasa arab??
Ini bahasa al-quran yang merupakan kalam Allah SWT. Jadi semoga tidak kata menyesal yang terlontar dari hati ku karena aku mengambil jurusan bahasa arab. Walaupun aku hanya punya sedikit basic dalam bidang ini tapi aku tetap yakin kalo aku pasti bisa konsisten di jurusan ini dan selalu berusaha untuk terus menggali apapun itu tentang bahasa arab. Mulai dari budaya, sejarah, struktur kata, struktur kalimat, latar belakang dan semua nya lah yang bersangkutan tentang bahasa arab ini. sehingga aku bisa menyampaikan ilmu yang aku dapat pada orang lain.
Setelah aku lulus kuliah nanti dan menjadi sarjana jurusan bahasa arab, pasti semua orang akan menganggap aku bisa dan tahu semua tentang bahasa arab. Tidak peduli dengan latar belakang ku yang bisa atau tidak dalam belajar bahasa arab. Itu lah kata seseorang yang sangat aku sayang yang selalu mengingatkan ku. Bahwa untuk menjadi guru apalagi sosok guru bahasa arab sangat berat karena bahasa arab ini adalah bahasa al-qur’an yang merupakan kitab suci dari agama islam. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela aku juga harus mengerti semua tentang agama islam.
Kehidupan ku sekarang yang masih sebagai mahasiswi bahasa arab di universitas islam negeri syarif hidayatullah jakarta ini, pasti sangat jauh berbeda ketika nanti aku sudah menjadi bagian dari salah satu sarjana jurusan bahasa arab dan aku harus bertanggungjawabkan title yang menempel pada ku nanti.
“bisa ala biasa” itu lah semboyan atau kalimat yang selalu menyemangati ku untuk terus belajar dan menggali ilmu bahasa arab ini. tidak ada kata terlambat untuk memulai nya sekarang dari pada tidak sama sekali. Satu lagi sosok “Z” ini juga merupakan salah satu penyemangat ku selain orang tua dan keluarga ku. Terima kasih karena kehadiranmu memberikan aku banyak pelajaran yang tidak aku dapatkan di bangku kuliah ini. semoga kamu akan tetap ada disamping ku disaat aku membutuhkan mu untuk menemaniku untuk menjalankan keras nya hidup di era globalisasi ini. terima kasih atas tegoran dan kritik pedas mu yang telah membangunkan aku dari lamunan lamunan semu ini.
Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang dan aku sangat yakin niscaya engkau (Allah) akan melimpahkan nikmat yang tak terhingga kepada hamba Mu yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang kau berikan J
By : khairhannie     
1/agustus/2012 at 21:47 WIB

Sabtu, 28 Juli 2012

23.50 0 Comments

TUGAS UTS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
LAPORAN HASIL PENGAMATAN PSIKOLOGIS PADA MASA KANAK-KANAK
Dosen Pembimbing : Ghozi Shalom M.Si



  







Disusun oleh :
Siti Laila Khairani (1110012000019)


Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2012
A.   Latar Belakang

Saya anak ke dua dari lima bersaudara terdiri dari empat laki-laki yaitu Muhamad Khaidar (22), Muhamad Hitzkiel Khaikal (17), Muhamad Khairuman Khatami (14), Muhamad Khairil Zulkifli (6) serta satu perempuan yaitu saya sendiri Siti Laila Khairani (20) dan mempunyai Bapak yang berprofesi sebagai karyawan swasta sedangkan Ibu saya berprofesi sebagai Guru Matematika di MTSN 7 Model Jakarta. Setiap orang pasti berbeda-beda watak dan sifat nya begitu pun dengan keluarga saya ini, Bapak merupakan orang yang sangat sabar menghadapi masalah-masalah dalam keluarga kami, walaupun dia hanya lulusan STM tapi dia sangat pintar membaca kitab kuning. Kata bapak dulu ketika remaja selalu ikut pengajian kitab kuning yang ada di daerah rumahnya kebetulan condet merupakan tempat dijakarta yang bisa dibilang banyak habaib. Sampai sekarang pun dia masih rajin membaca kitab kuning sebelum tidur. Ibu yang lulusan D3 PMTK dari UNJ dan seorang PNS juga jadi memiliki penghasilan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bapak yang hanya seorang montir bus. Ibu merupakan orang yang sangat royal terhadap siapapun, suka memberi, pintar bergaul dan selain pintar mtk ibu sangat mahir membuat pantun serta puisi walaupun dalam waktu yang snagat singkat. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi, pintar bergaul tapi ketika ibu marah akan menjadi sosok yang sangat manja sekali.
Khaidar yang merupakan anak pertama sedikit memiliki sifat yang cuek terhadap adik-adik nya tapi ketika ada masalah dengan adik nya maka dia akan menjadi seorang kakak yang sangat perhatian terhadap adik-adiknya. Dia juga lebih suka aktif di luar rumah seperti aktif di UKM KALACITRA, LEMKA (Lembaga Kaligrafi), dan masih banyak lagi. Bahkan dia pernah tidak pulang kerumah atau pulang pagi karena sibuk dengan kegiatannya. Sekarang dia sudah semester akhir dan sedang sibuk dengan skripsinya yang sesuai dengan jurusannya yaitu pendidikan bahasa arab. Sedangkan saya sendiri juga tidak berbeda jauh dengan abang yang suka aktif diluar rumah seperti OSIS, UKM KSR, dan masih banyak lagi. Dengan jurusan yang sama dengan abang saya itu pendidikan bahasa arab tapi sekarang saya baru semester empat. Saya sedikit lebih sensitif dan jutek tapi saya termasuk orang yang tidak sulit untuk bersosialisasi.
Berbeda jauh dengan adik saya yang pertama ini dia sangat pendiam, mengurung diri dikamar, dan ketika dia kesal akan menjadi sosok yang menyeramkan yang sedang marah. Sekarang dia baru akan masuk kuliah. Sikapnya dia selalu berubah-ubah sesuai mood nya dia. Dan sempat punya pemikiran yang sangat beda di keluarga kami mungkin karena dia sangat suka membaca buku dan sangat cerdas. Khairuman adik saya yang kedua ini sering bermain dengan anak-anak perempuan dibanding dengan anak laki-laki, sangat cerewet. Sekarang dia kelas 2 smp pesantren di IBS MTSN 31 jakarta, dia pintar berdagang seperti ibu yang menjadi ketua koperasi di MTSN 7 MODEL JAKARATA. Dan yang terakhir itu si kecil Khairil dia pintar, sangat aktif, dan lebih suka bermain dirumah dibanding diluar karena dia senang menggambar apapun dilantai menggunakan spidol sejak berumur 3 tahun hingga telapak tangan nya selalu penuh dengan tinta spidol setiap harinya karena digunakan untuk menghapus gambar yang dia gambar di lantai.
Kami tinggal dirumah kecil yang berisi tujuh orang dan bersebalahan dengan rumah adik laki-laki ibu yang mempunyai dua orang anak. Kami biasa memanggil adik laki-laki ibu dengan sebutan mamang sedangkan istri nya kita panggil ncing. Mamang tipe orang yang pendiam sekali tapi baik sekali, sedangkan ncing sangat cerewet sekali dan pedes banget bicaranya. Anak pertama nya perempuan bernama siti muthi’ah dan yang kedua laki-laki bernama muhamad kahfi. Muthi’ah ini sangat pendiam sekali jarang keluar rumah seperti mamang, dia sangat pintar karena rajin belajar berbeda sekali dengan adiknya kahfi yang bandel, suka semau nya sendiri, tidak suka belajar seperti kakaknya.
Rumah kami mempunyai pintu ditengah untuk kerumah ncing yang sebelahan dengan rumah kami. Jadi tidak susah jika ncing mengantarkan makanan untuk kami santap, karena ibu membayar ncing  untuk masak dan menjaga khairil adik terakhir saya kalau ibu pergi kerja. Lingkungan rumah kami rukun, harmonis dan agamis. Bapak bisa dibilang sebagai tokoh masyarakat karena beliau mengajarkan kitab kuning setiap malam senin kepada warga dan setiap hari nya selepas maghrib mengajarkan al-qur’an kepada anak-anak dan remaja sekitar. Bapak sangat ikhlas menjalankan itu semua menurut beliau “hanya ini yang bisa bapak lakukan untuk agama dan menjadi tabungan bapak kelak diakhirat”. Maka keluarga kami menjadi begitu terpandang selain bapak tokoh masyarkat ibu pun demikian karena ibu yang memplopori untuk mengaji dan mengajak ibu ibu rumah tangga di lingkungan kami. Ibu juga orang yang royal kepada semua orang tanpa membandingkan satu dengan yang lain maka ibu begitu disegani dengan warga sekitar.
Sayang nya karena abang dan saya begitu sibuk dengan kegiatan yang ada dikampus maka kami jarang bergaul dengan orang orang yang sepantaran dengan kami yang ada dilingkungan rumah kami. Dan jika sedang berada dirumah kami manfaatkan untuk beristirahat. Tidak jarang aku merasa terganggu dengan semua ini karena semua gerak gerik kami menjadi perhatian warga sekitar. Agak risih memang tapi ini tetap harus kami dijalani.
Adik yang terakhir ini memang sangat dimanjakan dengan fasilitas yang diberikan oleh ibu mulai dari mainan yang berkarung-karung, spidol, kebebasan menggambar dimana saja, serta membiarkan dia masih tetap minum susu di botol. Kami sebagai kakak-kakaknya hanya bisa tersenyum kesal karena ibu masih saja memanjakan dia padahal kami sudah sering menegurnya.
Dalam hal makanan dia sangat susah sekali, harus diiming-iming minum ice atau yang manis baru dia mau makan jika tidak jangan harap dia mau makan. Makanya badan dia sangat kurus sekali bahkan bisa dibilang kerempeng kalau kata orang betawi mah. Lauk yang sangat dia suka adalah teri medan, telor dorayaki buatan ibu, fried chikhen dan tidak pernah lupa dengan bawang goreng kesukaan nya.
Ncing dengan sengaja membuatkan bawang goreng setoples buat persediaan makan si aing (aril). Dia bisa makan hanya dengan bawang goreng, nasi dan dikecapin. Pasti lahap sekali dia makannya. Tidak suka dengan tempe tahu apalagi sayur mayur, serta  tidak suka ngemil kecuali yang rasa nya gurih dan asin.
Uang jajan TK nya saja perhari bisa sepuluh ribu banyaknya. Semua dibelikan mainan tidak pernah dibelikan untuk jajan makanan atau minuman.  Imajenasi yang sangat tinggi sehingga dia suka mainan lilin yang bisa dibentuk sesuka hati dan imajenasinya.
Ketika aku pulang kerumah dia sangat suka mengerjakan PR dengan ku karena setelah selesai mengerjakan PR pasti yang dia minta hanya main game di HP ku. Tidak jarang aku menggantikan game dengan membacakan cerita sebelum dia tidur. Karena dia sudah sangat terpengaruh dengan game bahkan seumuran dia sudah mengerti bagaimana cara membuka, menyalakan dan mematikan laptop/komputer kami. Dia juga sangat pintar untuk mencari game di laptop karena biasanya game itu kami sembunyikan di folder-folder.
Sekarang dia sering meminta aku membacakan cerita sebelum dia tidur karena imajenasi nya bermain sebelum tidur.

B.  Object Kajian

Untuk memenuhi tugas uts mata kuliah perkembangan peserta didik maka saya menjadikan adik saya yang terakhir sebagai object kajian dalam tugas ini.
Muhammad Khairil Zulkifli itu lah nama panjang adik saya yang berumur 6 tahun. Perawakan dia untuk yang seumuran dengan nya bisa dibilang dia sangat tinggi kira-kira sudah 120cm dibanding kan dengan teman-temannya tapi dia sangat kurus berat badannya saja hanya 19kg. Berkulit sawo matang seperti saya, dikeluarga kami hanya saya yang kurang bagus untuk tinggi badan nya. Kata nya sih memang di satu keluarga pasti ada satu orang anak yang beda dengan orangtua nya.
Tahun ini dia lulus dari taman kanak-kanak dan akan melanjutkan ke madrasah diniyah deket rumah yaitu MI Fadhlurrahman. Karena ibu berprofesi seorang guru matematika yang mengharuskan berangkat mengajar jam setengah enam pagi agar tidak telat sampai di sekolah tempat ia mengajar yang agak jauh jarak nya dari rumah dan baru sampai rumah sore hari jam empat. Maka dari dahulu sejak abang khaidar sampai adik saya yang terakhir atau anak bontot itu ibu sangat jarang sekali untuk mengantarkan ke sekolah kecuali saat dia libur mengajar seperti hari selasa, sabtu dan minggu. Dirumah juga yang memasak makanan sehari hari untuk kami adalah ncing dadah (ncing sebutan bibi untuk orang betawi) yang tinggal tepat disamping rumah kami. Jadi tidak ada kendala untuk makan kami sehari hari karena ibu sibuk bekerja. Ibu juga kadang masak jika libur mengajar tapi itu pun sangat jarang sekali karena ibu tipe orang yang gampang lelah ditambah dia darah rendah sangat untuk tidak dianjurkan berkegiatan padat. Ibu sangat baik terhadap anak-anak nya, bisa dibilang kami sebagai anak-anaknya tidak kurang satupun.
Setiap permintaan kami sering dikabulkan sama ibu walaupun kadang dalam waktu yang lama. Nah si khairil ini sangat dimanjakan dengan berbagai mainan. Ketika umur 3 tahun khairil sangat senang dengan tokoh kartun dalam film “Ultraman”, jadi ibu sangat sering membelikan dia mainan ultraman. Selain itu aril atau sebutan dari khairil ketika umur 3 tahun itu sangat senang menggambar apapun dilantai dengan spidol warna warni. Khalayan dia saat umur segitu sangat tinggi dan bisa mengaplikasikan khayalan dia ke dalam gambar nya dilantai. Dia menggunakan telapak tangan nya untuk menghapus jika gambar nya salah. Maka tidak jarang aril sering kami tegor jangan menggunakan telapak tangan untuk menghapus dan pernah kami memberikan kain agar dia gunakan untuk menghapus tanpa menggunakan telapak tangannya. Tapi, tetap saja dia menggunakan telapak tangan nya untuk menghapus. Jika kami melewati lantai yang ada gambar si aril dan tak sengaja terinjak oleh kami maka dia akan marah karena gambar nya menjadi terhapus. Imajenasi dia sering membuat kami tertawa melihatnya karena dia bisa menggambarkan apa yang ada dipikirannya. Tak jarang gambar gambar dia sangat mirip dengan objek yang dia tiru.  
Ketika umur segitu si aril juga bisa hapal doa sebelum tidur, sebelum makan dan al-fatihah. Dia juga sudah pintar menghitung, banyak menghafalkan kosa kata bahasa inggris yang saya sering ajarkan kepada si aril terutama nama – nama hewan. Setahu saya umur segitu anak sedang dalam fase meniru apa yang dia liat. Sebelum ada tugas ini saya sudah sedikit mencoba praktekan teori teori tentang anak balita. Karena sebagai perempuan saya akan mempunyai anak, maka saya menjadikan adik saya untuk percobaan agar saya tidak heran lagi jika mempunyai anak nanti.
Dan dia sangat suka mencium aroma payudara (maaf) dan ketiak ibu saya, katanya aroma itu wangi. Dia berhenti ASI sejak umur 2 tahun dan sampai sekarang dia masih minum susu di botol sambil memegang payudara ibu. Jika tidak diberikan maka dia tidak akan minum susu nya. Saya sangat marah ketika melihat itu karena menurut saya tidak baik dia seperti itu. Tapi anak kecil masih belum bisa mengenal nilai baik dan buruk jadi saya coba perlahan menjelaskan ke dia agar tidak seperti itu lagi dan tetap saja dia seperti itu. Ibu pun sering membiarkan sikap dia kata nya nanti juga dia bosan sendiri. Bapak tidak terlalu banyak bicara untuk sikap aril yang seperti itu. Ncing juga sudah memberi pengertian kepada si aril mengenai hal itu. Tetap saja hingga sekarang umur dia 6 tahun masih seperti itu dan dia masih mengompol.
Pergaulan dia bersama teman-teman nya sangat dipengaruhi dengan lingkungan sekitar rumah kami. Tetapi dia sangat jarang untuk bermain diluar rumah karena teman – temannya sendiri yang lebih sering bermain dirumah aril yang mempunyai banyak mainan yang sering dibelikan oleh ibu. Aku sering sekali kesal karena setelah selesai bermain tidak pernah dibereskan. Tapi kata ibu “yah nama nya juga anak kecil belum mengerti”.
Aril sangat manja dan cengeng karena dari kecil selalu diberikan apa yang dia inginkan maka jika ada sesuatu keinginan dia yang tidak diberikan pasti dia akan menangis dengan tujuan mencari perhatian kami dan mengabulkan permintaan dia. Kami sering membiarkan dan meninggalkan jika dia sedang menangis. Akhirnya dia tertidur dengan sendirinya karena kecapean menangis.














C.  Kesimpulan
Menurut hasil pengamatan saya terhadap adik saya sendiri yang menjadi object kajian dalam memenuhi tugas perkembangan peserta didik ini yaitu :
1)    Aspek Psikologis
ü  Manja
ü  Cengeng
ü  Sering berimajenasi dan mengaplikasikan nya dalam bentuk gambar
ü  Masih mentil sama ibu
ü  Masih mengompol dan minum susu di botol
ü  Suka cari perhatian terhadap orang dewasa


2)    Aspek Sosial
ü  Pemalu terhadap orang yang baru dia kenal
ü  Baik kepada teman yang dianggapnya menyenangkan buat dia
ü  Tidak pelit terhadap makanan maupun mainan
ü  Sering menjadi ledear didalam kelompok bermainnya dalam hal mengatur
ü  Suka cari perhatian


3)    Aspek Daya Tangkap
ü  Cepat menangkap dalam berhitung
ü  Cepat menghafal kosa kata bahasa inggris
ü  Males untuk belajar membaca dan menulis tapi jika berhitung sangat lancar
ü  Cepat dalam menghafal doa harian
ü  Cepat meniru apapun yang lagi buming misalnya menyanyikan lagu briptu norman
ü  Cepat menghafal cerita yang dia dengar

PENGALAMAN JADI PANITIA DONOR DARAH

23.15 0 Comments

PENGALAMAN JADI PANITIA DONOR DARAH
(LAUNCHING MOBIL DONOR DARAH 2011 at UIN JKT)
By : - Rhannie -
Hai,,hai,,hai,,
Kali nhe w dapet job bendahara di kepanitian doroh darah. Aduh pusing lagi megang uang, gimana caranya tugas w bisa meminimalisir keuangan acara,,huft padahal kan semua udh 2011 coba semua harga pada naek, harga cabe naek, daging juga naek parah dah (lah apah hubungan nya kali am harga cabe am harga daging,,haha www.gkjebo.com )
Acara DD nhe ksr kerja sama ama anak bemj syariah, setiap rapat anak bem y jarang dateng padahal kan nhe program bem mereka juga. Ups alamak keceplosan aku!! Haha :D
Makasih buat mpo erla n mpo anne udh mo bantuin w ngajarin ngatur keuangan acara J
Seperti sebelum nya setiap acara selaluuuuuuu ajh yang dateng pada gantian orang2 nya kan jadi kurang maksimal ng-rapatin bwt acara nya (pdhl w juga pernah gk dteng wktu rapat acara,,hehe mav iiiia J ) *sekali lagi setiap orang punya kesibukan masing2 yang may be gk bisa ditunda kesibukannya*
Acara nya kan rabu pagi ampe jam 12 siang, bela2in bolos kuliah Cuma bwt acara itu duank tp alhmdulillah semua dosen hari ini gk da yang masuk berarti w gk termasuk bolos donk!! Haha
Kacau deh pas dr.roby bilang klo mereka Cuma nyediain 30 kantong donor darah, hadoooh padahal kan yang daftar bejibun nhe. Kata anak2 ksr yg dlu nhe acara donor darah yang paling berantakan karna pertama kali nglakuin donor didalam mobil jd gk jelas gt alur donor darah nya. Bete juga si udh susah bwt acara nhe eh malah kyk gini jadi nya, but nevermind for this mistake. Orang bijak berkata : experience the best of teacher (ngerti kan??,, mav y klo salah bahasa sunda nya J)







IBU

23.11 0 Comments

IBU
Dia adalah seorang wanita yang perkasa
Banting tulang mengurus keluarga juga bekerja keras
Dia adalah seorang wanita yang lembut
Menasehati jika anak nya salah memilih jalan hidup
Dia adalah seorang wanita yang sabar
Selalu sabar menghadapi tingkah laku anak-anak nya
Dia adalah seorang wanita yang kuat dan tangguh
Ketika angin dan badai menerpa diri nya
Ibu,,
Tank’s alot for your sacrificer
We love you
22.52 0 Comments

TUGAS MAKALAH
ISLAM DAN PERSOALAN KONTEMPORER
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER
Dosen Pembimbing : Drs. Ahmad Thib Raya, M.A.




Disusun Oleh :
Fahmi Yazid
Khairina Umami
Siti Laila Khairani


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011
I. PENDAHULUAN
Diantara 114 surat yang terkandung di dalam Al-Qur’an terdapat satu surat yang didedikasikan untuk perempuan secara khusus. Memuat dengan lengkap hak asasi perempuan dan aturan-aturan yang mengatur bagaimana seharusnya perempuan berlaku di dalam lembaga pernikahan, keluarga dan sektor kehidupan. Surat ini dikenal dengan surat An-nisa’, dan tidak satupun surat secara khusus ditujukan kepada kaum laki-laki. Lebih jauh lagi, Islam datang sebagai revolusi yang mengeliminasi diskriminasi kaum Jahiliyah atas perempuan dengan pemberian hak warisan, menegaskan persamaan status dan hak dengan laki-laki, pelarangan nikah tanpa jaminan hukum bagi perempuan dan mengeluarkan aturan pernikahan yang mengangkat derajat perempuan masa itu dan perceraian yang manusiawi.
Al-Qur’an secara umum dan dalam banyak  ayatnya telah membicarakan relasi gender, hubungan antara laki-laki dan perempuan, hak-hak mereka dalam konsepsi yang rapi, indah dan bersifat adil. Al Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk manusia, tentunya pembicaraannya tidaklah terlalu jauh dengan keadaan dan kondisi lingkungan dan masyrakat pada waktu itu. Seperti apa yang disebutkan di dalam Q.s. An-Nisa’, yang memandang perempuan sebagai makhluk yang  mulia dan harus dihormati. Maka pada ayat pertama surat An-Nisa’ kita dapatkan bahwa Allah telah menyamakan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai hamba dan makhluk Allah, yang masing-masing jika beramal sholeh pasti akan diberi pahala sesuai dengan amalnya. Kedua-duanya tercipta dari  jiwa yang satu  ( nafsun wahidah ), yang mengisyaratkan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya. Semuanya di bawah pengawasan Allah serta mempunyai kewajiban untuk bertaqwa kepada-Nya ( ittaqu robbakum ). Kesetaraan yang telah diakui oleh Al Qur’an tersebut, bukan berarti harus sama antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Untuk menjaga kesimbangan alam ( sunnatu tadafu’ ), harus ada sesuatu yang berbeda, yang masing-masing mempunyai fungsi dan tugas tersendiri.
  
KESETARAAN GENDER DALAM ISLAM
Islam hadir di dunia tidak lain kecuali untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan. Jika ada norma yang dijadikan pegangan oleh masyarakat, tetapi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan, norma itu harus ditolak. Demikian pula bila terjadi berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Bila ditelaah lebih dalam sebenarnya tidak ada satu pun teks baik al-qur’an maupun hadis yang memberi peluang untuk memperlakukan perempuan secara semena-mena.
Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan yang menguntungkan satu pihak lainnya. Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sama dengan laki-laki.
Kesamaan tersebut dapat dilihat dari tiga hal :
1.      Hakikat kemanusiaannya.
2.      Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan mendapat pahala yang sama atas amal yang dibuatnya atau pun sebaliknya.
3.      Islam tidak mentolelir adanya perbedaan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.
Ternyata pada masa Rasul sudah ada praktek kesetaraan gender itu sendiri. Rasullah adalah suri tauladan yang tiada bandingan nya, pribadi yang sangat agung, kasihnya dapat memberi kedamaian dan ketentraman di antara umat manusia. Betapa kita sangat mengenal Khadijah sebagai seorang saudagar perempuan yang sumbangan finansialnya sangat penting bagi tegaknya dakwah islam. Bisa dikatakan bahwa kala itu Khadijah berperan sebagai pencari nafkah utama, karena berbagai kesibukan dakwah Nabi.
Kisah ini sekaligus menandakan bahwa pada masa Nabi perempuan dapat bekerja dan mengembangkan inisiatifnya. Menjadi tidak dapat dipahami bila sekarang muncul suatu pandangan dari sebagian kalangan, bahwa islam tidak memberikan tempat bagi perempuan bekerja, hanya karena keterkaitan dengan suami. Dalam kehidupan perkawinan Rasul dengan Khadijah, Khadijah yang berperan besar dalam masalah ekonomi keluarga. Hal tersebut dibenarkan oleh islam, karena alasan kerja sama dan sikap saling berbagi tanggung jawab. Sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur’an :
انَى لا اضيع عمل عمل منكم من ذكر او انثى بعضكم من بعض
"... sesungguhnya aku tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu, laki-laki dan perempuan. Sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain ...” (Al-Qur’an Ali Imran /3 : 195)

II. PEMBAHASAN
·         Kesetaraan Gender

Gender artinya suatu konsep, rancangan atau nilai yang mengacu pada sistem hubungan sosial yang membedakan fungsi serta peran perempuan dan laki-laki dikarenakan perbedaan biologis atau kodrat, yang oleh masyarakat kemudian dibakukan menjadi ’budaya’ dan seakan tidak lagi bisa ditawar, ini yang tepat bagi laki-laki dan itu yang tepat bagi perempuan. Apalagi kemudian dikuatkan oleh nilai ideologi, hukum, politik, ekonomi, dan sebagainya. Atau dengan kata lain, gender adalah nilai yang dikonstruksi oleh masyarakat setempat yang telah mengakar dalam bawah sadar kita seakan mutlak dan tidak bisa lagi diganti. Jadi, kesetaraan gender adalah suatu keadaan dimana perempuan dan laki-laki sama-sama menikmati status, kondisi, atau kedudukan yang setara, sehingga terwujud secara penuh hak-hak dan potensinya bagi pembangunan di segala aspek kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Islam mengamanahkan manusia untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, keutuhan, baik sesama umat manusia maupun dengan lingkungan alamnya. Konsep relasi gender dalam Islam lebih dari sekedar mengatur keadilan gender dalam masyrakat, tetapi secara teologis dan teleologis mengatur pola relasi mikrokosmos (manusia), makrosrosmos (alam), dan Tuhan. Hanya dengan demikian manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah, dan hanya khalifah sukses yang dapat mencapai derajat abid sesungguhnya. Islam memperkenalkan konsep relasi gender yang mengacu kepada ayat-ayat (al-Qur’an) substantif yang sekaligus menjadi tujuan umum syari’ah (maqashid al-syariah), antara lain mewujudkan keadilan dan kebajikan.

·         Perbedaan antara Gender dan Jenis Kelamin

Menurut bahasa, kata gender diartikan sebagai kelompok kata yang mempunyai sifat, maskulin, feminin, atau tanpa keduanya (netral). Dapat dipahami bahwa gender adalah perbedaan yang bukan biologis dan juga bukan kodrat Tuhan. Konsep gender sendiri harus dibedakan antara kata gender jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan adalah kodrat Tuhan karena secara permanen tidak  berubah dan merupakan ketentuan biologis. Sedangkan gender adalah perbedaaan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan yang secara sosial dibentuk. Perbedaan yang bukan kodrat ini diciptakan melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Misalnya seperti apa yang telah kita ketahui bahwa perempuan dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, emosional, dan keibuan sehingga biasa disebut bersifat feminin. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa dan disebut bersifat maskulin. Pada hakikatnya ciri dan sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya, ada laki-laki yang memiliki sifat emosional dan lemah lembut. Dan sebaliknya, ada pula wanita yang kuat, rasional dan perkasa. Oleh karena itu, gender dapat berubah dari individu ke individu yang lain, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, bahkan dari kelas sosial yang satu ke kelas sosial yang lain. Sementara jenis kelamin yang biologis akan tetap dan tidak berubah.

Gender tidak bersifat biologis, melainkan dikontruksikan secara sosial. Karena gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi, oleh sebab itu, gender dapat berubah. Islam adalah agama keTuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan kemasyarakatan (Q.S. al-imran: [3] 112). Dalam pandangan Islam, manusia mempunyai dua kapasitas, yaitu sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representatif Tuhan (khalifah), tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan warna kulit. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 13, Yang artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

·         Konsep Kesetaraan Gender dalam Kehidupan

a.       Lingkungan Keluarga  
Menurut ideologi ini, kedudukan laki-laki yang penterpenting dalam suatu keluarga adalah sebagai seorang suami yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Namun, sebagai pencari nafkah utama. Karena tugasnya sebagai pencari nafkah sering seorangsuami tidak peduli dan tidak mau tahu dengan urusan rumah tangga, sebab dia merasasudah memberi uang untuk jalannya roda rumah tangga (Smith 1988:154).banyak istri yang bekerja mencari nafkah di luar rumah. Penghasilan istri juga berfungsi menambah penghasilan. Istri yang bekerja mencari nafkah di luar rumah biasanya harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari suami. Pada umumnya hingga saat ini meskipun istri bekerja, sang suami tetap tidak ingin bila posisi dan penghasilan yang diperoleh istri melebihi sang suami dan penghasilan suami tetap merupakan penghasilan pokok bagi keluarga.

Di samping istri bekerja mencari nafkah di luar rumah, tanggung jawab urusan rumah tangga tetap ada di pihak istri sehingga dapat dibayangkan beratnya beban yang ditanggung oleh seorang istri bila ia bekerja di luar rumah. Meskipun perempuan sudah dapat bekerja di luar rumah, pada saat ini masih tetap tampak berlakunya konsep gender, sebagai contoh istri yang bekerja masih harus memperhitungkan perasaan suami dengan tidak mau meraih posisi yang lebih tinggi dari suami, sehingga sering mereka bekerja tanpa ambisi. Sering timbul dilema bagi dirinya untuk memilih antara karier dan keluarga.

b.   Lingkungan Pendidikan
Di bidang pendidikan tampak bahwa konsep gender juga dominan. Sejak masa kanak-kanak ada orangtua yang memberlakukan pendidikan yang berbeda berdasarkan konsep gender. Sebagai contoh kepada anak perempuan diberi permainan boneka sedangkan laki-laki memperoleh mobil-mobilan dan senjata sebagai permainannya. Bila diingat bahwa pada Zaman Kartini berlaku perbedaan pendidikan bagi anak perempuan dan laki-laki, tampaknya saat ini juga masih demikian. Sebagai contoh, masyarakat kita masih menganggap bahwa anak perempuan lebih sesuai memilih jurusan bahasa, pendidikan atau pendidikan rumah tangga, sebaliknya anak laki-laki lebih sesuai untuk jurusan teknik. Perempuan dianggap lemah di bidang matematika, sebaliknya laki-laki dianggap lemah di bidang bahasa. Pada keluarga yang kondisi ekonominya terbatas banyak dijumpai pendidikan lebih diutamakan bagi anak laki-laki meskipun anak perempuannya jauh lebih pandai, keadaan ini menyebabkan lebih sedikitnya jumlah perempuan yang berpendidikan. (Millar 1992)

c.   Lingkungan Pekerjaan
Sejak kaum perempuan dapat memperoleh pendidikan dengan baik,  jumlah perempuan yang mempunyai karier atau bekerja di luar rumah menjadi lebih banyak. Mednick (1979) berpendapat meskipun jumlah kaum perempuan yang bekerja meningkat, tetapi jenis pekerjaan yang diperoleh masih tetap berdasar konsep gender. Kaum perempuan lebih banyak bekerja di bidang pelayanan jasa atau pekerjaan yang membutuhkan sedikit keterampilan seperti di bidang administrasi, perawat atau pelayan toko dan hanya sedikit yang menduduki jabatan manager atau pengambil keputusan (Abbott dan Sapsford 1987). Dari segi upah, masih banyak dijumpai bahwa kaum perempuan menerima upah lebih rendah dari laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama, juga perbedaan kesempatan yang diberikan antara karyawan perempuan dan laki-laki di mana laki-laki lebih diprioritaskan. Dari perbedaan perlakuan tersebut banyak yang kemudian menyimpulkan, menggolongkan dan kemudian menganggap perempuan sebagai orang yang lemah, pasif serta dependen dan menganggap laki-laki lebih berharga. Akibatnya banyak orang lebih menghargai dan memilih mempunyai anak laki-laki dibanding dengan anak perempuan (Mednick, 1979).

Hakekat Keadilan dan Kesetaraan dalam Islam

Hakekat keadilan dan kesetaraan gender memang tidak bisa dilepaskan dari konteks yang selama ini dipahami oleh masyarakat tentang peranan dan kedudukan lakilaki dan perempuan di dalam realitas sosial mereka. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi/bangunan budaya tentang peran, fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi, terhadap laki-laki dan perempuan. Hanya saja bila dibandingkan, diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Faktor utama penyebab kesenjangan gender adalah tata nilai sosial budaya masyarakat, pada umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (budaya patriarki). Disamping itu, penafsiran ajaran agama yang kurang menyeluruh atau cenderung dipahami menurut teks/tulisan kurang memahami realitas/kenyataan, cenderung dipahami secara sepotong-sepotong kurang menyeluruh. Sementara itu, kemampuan, kemauan dan kesiapan kaum perempuan sendiri untuk merubah keadaan tidak secara nyata dilaksanakan. Kesetaraan gender mempunyai arti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-hak yang sama sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti : politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya.. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki menjadi tanda terwujudnya kesetaran dan keadilan gender, dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
 KESIMPULAN
Al Qur’an secara umum dan dalam banyak  ayatnya telah membicarakan relasi gender, hubungan antara laki- laki dan perempuan, hak- hak mereka dalam konsepsi yang rapi, indah dan bersifat adil. Al Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk manusia, tentunya pembicaraannya tidaklah terlalu jauh dengan keadaan dan kondisi lingkungan dan masyrakat pada waktu itu. Seperti apa yang disebutkan di dalam Q.s. Al- Nisa, yang memandang perempuan sebagai makhluk yang  mulia dan harus di hormati, yang pada satu waktu masyarakat Arab sangat tidak menghiraukan nasib mereka.
Pengertian gender tidak sekedar merujuk pada perbedaan biologis semata, tetapi juga perbedaan perilaku, sifat, dan ciri-ciri khas yang dimiliki laki-laki ataupun perempuan. Lebih jauh lagi, istilah gender menunjuk pada peranan dan hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Jika perbedaan jenis kelamin merupakan bawaan sejak lahir dan sepenuhnya kehendak Tuhan, perbedaan gender sepenuhnya didasarkan atas kreasi atau ciptaan masyarakat. Oleh karena itu, jenis kelamin tidak akan pernah berubah dari waktu ke waktu. Sementara gender selalu berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat.



DAFTAR PUSTAKA
Dr. Nasaruddin Umar, MA ,  Argumen Kesetaraan Jender, Pespektif Al Qur’an , Jakarta : Paramidana, 1999, Cet. I  hlm 35.
Ahmed, Leila. 2000. Wanita dan Gender dalam Islam. Jakarta : Lentera Basristama.
Fayumi, Badriyah. 2001. Keadilan dan Kesetaraan Gender. Jakarta : Departemen Agama RI.
....................... 1994. Wanita dalam Islam. Bandung : Pustaka.